Me, my family and my kompor

Mas Donny Verdian dengan baik hati menawarkan aku untuk kontribusi sebuah post di blognya. Aku pun menulis sebuah balada (haiyah) yang aku dedikasikan untuk Bapak (dan Ibu ku) tersayang dengan judul “Me, my family and my kompor”.

Baca selengkapnya (Donnyverdian.net)

Filipino ka

Sapaan “Kumusta, Pilipino ka?” (artinya: “Halo, orang Filipin ya?”) sudah tidak asing lagi di kupingku. Nasib sebagai orang Indonesia yang berperawakan mirip dengan orang Filipin/Malaysia/sebut negara Asia Tenggara lainnya adalah sering salah kaprah. Kadang bahkan tanpa sapaan, si doi langsung aja nyerocos dalam bahasa Tagalog.

Aku, sambil senyum sumringah kayak orang lagi nahan kentut, pun menjawab: “Hindi ako marunong mag tagalog” (“Aku enggak bisa bahasa Tagalog” dalam bahasa Tagalog). Jawaban ini biasanya ditanggapi dengan tampang bingung. Dipikirnya, “Loh katanya enggak bisa bahasa Tagalog, tapi kenapa ngomong begitu dalam bahasa Tagalog”. Sementara dia bingung, aku ngeloyor dengan sukses sambil cekikikan.

Photo credit: pink hats, red shoes

Kota Toronto memang sangat multikultural. Toronto adalah tempat tinggal  8 persen dari populasi Kanada, 30 persen dari semua imigran baru dan 20 persen dari seluruh imigran yang ada di Kanada (2006). Setengah dari populasi Toronto (2006) lahir di luar Kanada. Populasi orang Filipin di Toronto sekitar  103 ribu penduduk or 4,1 persen, dan populasi orang Asia Tenggara di Toronto sekitar 16 persen (2006) (Sumber: City of Toronto – Diversity).

Maka enggak heran kalau sering terjadi kekisruhan disaat mencoba menebak asal muasal seseorang yang “casing”nya Filipin seperti aku ini.

Continue reading